Hubungan Bahasa dan Cara Memandang Dunia




Panos Athanasopoulos, seorang profesor linguistik dan Bahasa Inggris di Universitas Lancaster, menjelaskan penelitiannya tentang pengertian konsekuensi dari orang yang menguasai lebih sari satu bahasa:
"Orang yang menguasai lebih dari satu bahasa mendapat banyak keuntungan. Prospek kerja yang lebih bagus, dorongan untuk lebih memahami, dan bahkan berpotensi melawan dementia. Kini penelitian baru menunjukkan bahwa mereka juga dapat memandang dunia dengan cara yang berbeda, tergantung dari bahasa apa yang sedang mereka gunakan.
Hanya latihan biasa akan memberi tubuh Anda beberapa keuntungan secara biologis, pikiran yang dapat mengendalikan lebih dari dua bahasa dapat memberikan otak Anda keuntungan secara kognitif. Pikiran yang fleksibel ini akan memnyimpan keuntungan, khususnya, untuk masa depan Anda. Penyakit seperti dementia dan alzheimer akan ditunda selama lima tahun bagi orang yang menguasai lebh dari satu bahasa."


Orang Jerman tahu apa yang sedang mereka lakukan


Pertanyaan sederhana seperti 'How are you?' yang diberikan oleh orang non-Jerman, seringkali dijawab dengan panjang lebar oleh orang Jerman karena (sebagian besar dari) mereka memang detil dan jujur.


Dalam penelitian yang dipublish di Psychological Science, peneliti mempelajari tentang orang Jerman-Inggris yang menguasai satu maupun lebih dari satu bahasa untuk mencari tahu bagaimana perbedaan bahasa bisa memiliki efek terhadap reaksi mereka dalam sebuah ekperimen.
Ditunjukkan kepada orang-orang itu sebuah video tentang seorang wanita yang sedang berjalan ke arah mobil, atau seorang pria yang mengendarai sepeda ke arah supermarket, dan kemudian mereka diminta untuk mendeskripsikan kejadiannya.
Saat menunjukkan adegan itu pada orang Jerman yang hanya menguasai satu bahasa, maka mereka akan mendeskripsikan bukan hanya kegiatannya, namun juga tujuannya. Jadi mereka akan mengatakan, Seorang wanita sedang berjalan menuju mobilnya atau Seorang pria sedang berjalan menuju supermarket.
            Sedangkan orang Inggris yang hanya menguasai satu bahasa akan dengan mudah mendeskripsikannya dengan, Seorang wanita sedang berjalan atau Seorang pria sedang bersepeda, tanpa menyebutkan apa tujuannya.
Dapat diasumsikan bahwa orang-orang yang berbahasa Jerman adalah orang-orang yang melihat segala sesuatu dengan menyeluruh, sedangkan orang-orang yang berbahasa Inggris hanya terpaku pada kegiatannya.
Kecendrungan dasar linguistik ini tampaknya berakar pada perbedaan tata bahasa yang menindak kegiatan berdasarkan waktunya. Orang-orang berbahasa Inggris secara tata bahasa menandai kejadian yang sedang berlangsung dengan menambahkan imbuhan –ing, seperti: “I am playing piano and I can’t come to the phone” atau “I was playing the piano when the phone rang”. Dan bahasa Jerman tidak memiliki fitur ini.
Peneliti juga meminta mereka menyaksikan video seri yang menunjukkan adegan orang sedang berjalan, berlari, atau berkendara. Dalam ketiga kategori video, mereka juga diminta menentukan apakah adegan yang ambigu (seperti saat seorang wanita berjalan ke arah tempat parkir) mirip dengan adegan yang tujuannya jelas (seperti seorang wanita yang berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan) atau adegan yang tidak ada tujuannya (seperti seorang wanita yang berjalan di pinggiran kota).
  Orang Jerman akan mengaitkan adegan-adegan ambigu dengan adegan yang tujuannya jelas lebih sering daripada orang-orang berbahasa Inggris. Perbedaan ini mencerminkan salah satu penggunaan bahasa: Orang-orang berbahasa Jerman akan lebih fokus terhadap kemungkinan dari apa yang orang-orang lakukan, sedangkan orang-orang berbahasa Inggris hanya akan lebih memerhatikan kegiatannya saja. 

Ganti bahasa, ganti perspektif



Ketika dialami oleh orang-orang dengan lebih dari satu bahasa, mereka akan mengganti antara perspektif ini pada konteks bahasa yang sedang mereka gunakan. Peneliti menemukan bahwa orang Jerman yang fasih berbahasa Inggris akan tetap fokus pada tujuan seperti yang sudah dites kepada orang Jerman lain di negara mereka. Namun, grup Jerman-Inggris yang sejenis ketika dites bahasa Inggris di Inggris/United Kingdom, maka mereka akan fokus hanya pada kegiatan, sama seperti yang sudah dites pada orang-orang di negara mereka.
Pada grup Jerman-Inggris lain, peneliti menetapkan satu bahasa di pikiran mereka selama ada video-matching yang meminta mereka mengulangi urutan angka dengan keras dalam bahasa Inggris maupun Jerman. Pengalihan satu bahasa secara otomatis tampak membawa pengaruh ke bahasa yang lainnya.
Penelitian ini berada dalam satu garis dengan penelitian yang menunjukkan tingkah laku pada orang yang menguasai lebih dari satu bahasa bergantung pada bahasa apa yang sedang mereka gunakan. Orang Israel-Arab akan lebih memilih nama yang sangat Arab seperti Ahmed dan Samir yang memiliki arti kata yang positif dalam konteks bahasa Arab daripada yang berada di dalam konteks bahasa Hebrew, sebagai contoh.
Sebagian orang mengaku bahwa mereka merasa seperti orang lain ketika membawakan bahasa yang berbeda, dan mengekspresikan emosi membawa mereka pada alasan emosional yang berbeda bergantung dengan bahasa yang mereka sedang gunakan.
Ketika sedang menilai sesuatu, orang yang menguasai lebih dari satu bahasa cenderung akan membuat keputusan ekonomis yang lebih rasional dengan bahasa kedua mereka. Berbanding dengan saat menggunakan bahasa asli mereka, karena akan cenderung kurang ‘dalam’, dan akan mempengaruhi resiko dan manfaat yang akan mereka terima.
Jadi, bahasa yang Anda gunakan akan mempengaruhi cara Anda berpikir.





Terjemahan dari : 

https://www.braindecoder.com/how-the-language-you-speak-changes-your-view-of-the-world-1114539930.html


0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © Nabila Ramadhani Blogger Theme by BloggerThemes & newwpthemes Sponsored by Internet Entrepreneur