Pernahkah
Anda mengunjungi sebuah tempat untuk pertama kalinya dan tiba-tiba Anda merasa
familiar dengan tempat tersebut? Atau,
pernahkah Anda mengalami suatu peristiwa dan tiba-tiba Anda merasa pernah
mengalaminya namun Anda tidak ingat kapan peristiwa itu benar-benar terjadi?
Itulah yang dinamakan Déjà Vu, salah satu fenomena
misterius yang dialami oleh manusia. Déjà Vu adalah frasa Perancis yang artinya
secara harafiah adalah "pernah melihat" atau "pernah
merasa". Maksudnya adalah mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan
pernah dialami sebelumnya. Fenomena ini juga disebut dengan istilah paramnesia
dari bahasa Yunani para (παρα) yang artinya ialah "sejajar" dan mnimi
(μνήμη) "ingatan".
Sebelum kita melihat mengenai deja vu, pertama, kita
perlu mengetahui apa yang disebut dengan "Recognition Memory", atau
memori pengenal.
Recognition Memory
Recognition
Memory adalah sebuah jenis memori yang menyebabkan kita menyadari bahwa apa
yang kita alami sekarang sebenarnya sudah pernah kita alami sebelumnya.
Otak kita berfluktuasi antara dua jenis Recognition
Memory, yaitu Recollection dan Familiarity. Kita menyebut sebuah ingatan
sebagai Recollection (pengumpulan kembali) jika kita bisa menyebutkan dengan
tepat seketika itu juga kapan situasi yang kita alami pernah muncul sebelumnya.
Contoh, jika kita bertemu dengan seseorang di toko, maka dengan segera kita
menyadari bahwa kita sudah pernah melihatnya sebelumnya di bus.
Sedangkan ingatan yang disebut Familiarity muncul ketika
kita tidak bisa menyebut dengan pasti kapan kita melihat pria tersebut. Deja Vu
adalah contoh Familiarity.
Selama terjadi Deja Vu, kita mengenali situasi yang
sedang kita hadapi, namun kita tidak tahu dimana dan kapan kita pernah
menghadapinya sebelumnya.
Percaya atau tidak, 60 sampai 70 persen manusia di bumi
ini paling tidak pernah mengalami deja vu minimal sekali, apakah itu berupa
pandangan, suara, rasa atau bau. Jadi, jika anda sering mengalami deja vu,
jelas anda tidak sendirian di dunia ini.
Lalu bagaimana sains menjelaskan fenomena Déjà Vu?
Jangan
dulu berpikiran bahwa ini adalah fenomena alam yang tidak mampu dijelaskan
secara ilmiah karena para ilmuwan telah menemukan jawaban akan fenomena yang
ada dalam alam pikiran manusia tersebut.
Para ilmuwan
menduga bahwa Déjà vu terjadi pada saat sel-sel otak kita berjalan lebih lambat
daripada mata kita. Jika kita teliti
lebih lanjut, Déjà vu bukan terfokus pada apa yang dialami tapi merupakan
‘perasaan aneh’ yang dialami seseorang. Perlu diketahui bahwa memori manusia
bekerja dengan cara asosiasi. Kita mengingat hal hal baru dengan cara
mengaitkannya dengan apa yang sudah kita ingat sebelumnya. Kita tentu pernah
secara tiba tiba mengingat sesuatu, seperti ketika kita mengingat nama
seseorang saat kita sedang melihat membaca majalah. Atau bagaimana huruf K
mengingatkan kita pada pulau Sulawesi. Ini menunjukkan bahwa memori kita memang
bekerja secara asosiatif. Pada fenomena Déjà vu, terkadang apa yang kita
barusan alami memicu sebuah fragmen di masa lalu yang serupa namun gagal teridentifikasi
sehingga yang tersisa hanyalah ‘perasaan pernah mengalami’ hal tersebut. Proses
Déjà vu merupakan proses aktivitas kimia pada syaraf otak yang memungkinkan
munculnya perasaan ‘pernah mengalami’.
Pada umumnya setiap aktivitas terekam pada memori sementara selagi otak
secara konstan mengakses memori jangka panjang sebagai pembanding. Layaknya prosesor pada komputer yang
mengakses Harddisk dan RAM. Adakalanya
pada saat mengakses memori jangka panjang (memori lampau) muncul sebuah
persamaan pola yang tidak bisa diingat secara penuh untuk menampilkan informasi
lebih lanjut. Ini akan menimbulkan sensasi ‘pernah mengalami’.
Teori
Lain
Optical Pathway Delay
Teori
ini menjelaskan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh
sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi
yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan
perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori
yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada
bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu
melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.
Pendapat Sigumund Freud
Iceberg
metaphor merupakan kunci penting untuk memahami déjà vu ini. Dalam metafor
tersebut dikatakan bahwa sebagian besar informasi yang kita terima tersimpan di
pikiran bawah sadar kita dan belum muncul ke permukaan. Hanya sebagian kecil
dari informasi yang kita terima benar-benar akan kita ingat atau sadari.
Menurut konsep tersebut, seseorang akan mengalami déjà vu ketika ia secara
spontan teringat dengan sebuah ingatan bawah sadar. Karena ingatan itu berada
pada area bawah sadar, isi ingatan tersebut tidak muncul karena dihalangi oleh
pikiran sadar, namun perasaan “merasa pernah mengalami” dengan suatu
peristiwa akan muncul keluar.
Memori dari sumber lain
Teori
ini percaya bahwa otak kita menyimpan banyak memori yang datang dari berbagai
aspek kehidupan kita, seperti film yang kita tonton, gambar ataupun buku yang
kita baca. Informasi-informasi ini kita simpan tanpa kita sadari. Sejalan
dengan lewatnya waktu, maka ketika kita mengalami peristiwa yang mirip dengan
informasi yang pernah kita simpan, maka memori yang tersimpan di bawah sadar
kita akan bangkit kembali.
Contoh, sewaktu kecil, mungkin kita pernah menonton
sebuah film yang memiliki adegan di sebuah tugu atau monumen. Ketika dewasa,
kita mengunjungi tugu ini dan tiba-tiba kita merasa familiar walaupun kita
tidak ingat dengan film tersebut.
Teori ini mirip dengan teori ponsel, tapi teori ini
setuju bahwa déjà vu berhubungan dengan kejadian yang telah berlangsung lama di
masa lampau.
Hubungan dengan penyakit
Beberapa
ilmuwan telah mencoba untuk menemukan korelasi antara déjà vu dan penyakit
psikologi seperti Schizophrenia, kegelisahan, kegilaan dengan harapan untuk
menemukan penemuan yang berharga.
Bagaimanapun sampai sekarang tidak ditemukan korelasi
yang khusus antara déjà vu dan Schizophrenia atau penyakit yang lain. Tapi
hubungan yang paling dekat antara penyakit kejiwaan adalah antara déjà vu
dengan epilepsi. Korelasi ini telah membawa peneliti kepada fakta bahwa déjà vu
itu bisa saja terkait dengan kelainan saraf yang menyebabkan kejutan-kejutan
listrik di otak. Sebagian besar orang menderita epilepsi ringan (seperti
kejutan-kejutan tiba-tiba, yang sering terjadi sesaat sebelum tidur) itu
diperkirakan sama dengan kelainan saraf yang menyebabkan déjà vu.
Pendapat Bannister dan Zangwill
Bannister
dan Zangwill (1941) mencoba menganalisis déjà vu dengan menggunakan hypnosis
pada 10 subjek penelitian. Ternyata 3 dari 10 di antaranya mengalami déjà vu.
Cleary (2008) mengajukan hipotesis bahwa déjà vu merupakan bentuk dari sesuatu
yang telah familiar diketahui yang disebut cripyamnesia adalah susuatu yang
telah dipelajari namun tidak disimpan baik di otak, namun pada suatu waktu
memori dalam “membukanya” kembali tanpa kendali kita juga merupakan hipotesis
penyebab terjadinya déjà vu.
Macam-macam Déjà Vu
Déjà
vu juga terjadi dalam berbagai bentuk ada yang hanya bisa mengingat secara
samar-samar, ada yang hanya mengingat lokasi kejadian, dan ada pula yang
mengingat hal-hal yang sangat mendetail. Secara garis besar, déjà vu terdiri
dari 5 jenis yakni:
1.
Déjà Vu
Déjà
vu jenis ini yang paling banyak terjadi dimana kita pernah merasakan suatu
kondisi yang sama sebelumnya dan yakin pernah terjadi di masa yang lampau dan
berulang kali. Sering kali pada saat itu individu akan diikuti oleh perasaan
takut, rasa familiar yang kuat, dan merasa aneh.
2.
Déjà Vécu
Perasaan
yang terjadi pada Deja Vecu lebih kuat daripada déjà vu. Deja vecu seseorang
akan merasa pernah berada dalam suatu kondisi sebelumnya dengan ingatan yang
lebih detail seperti ingat akan suara ataupun bau.
3.
Déjà Senti
Déjà
Senti adalah fenomena “pernah merasakan” sesuatu. Suatu ketika kamu pernah
merasakan sesuatu dan berkata “Oh iya saya ingat!” atau “Oh iya saya tahu!”
namun satu dua menit kemudian sadar bahwa sebenarnya kamu tidak pernah
berbicara apa pun.
4.
Jamais Vu
Jamais
Vu (tidak pernah melihat/mengalami) adalah kebalikan dari déjà vu. Kalau déjà
vu mengingat hal-hal yang sebenarnya belum pernah dilakukan sebelumnya, Jamais
Vu lain lagi. Tipe déjà vu semacam ini justru tiba-tiba kehilangan memorinya
dalam mengingat sesuatu hal yang pernah terjadi dalam diri. Hal ini bisa
terjadi karena kelelahan otak.
5.
Déjà Visité
Déjà
vu tipe ini lebih menitikberatkan pada ingatan seseorang akan sebuah tempat
yang belum pernah ia datangai sebelumnya tapi merasa pernah merasa berada pada
lokasi yang sama. Déjà Visité berkaitan dengan tempat atau geografi.
Referensi:


0 comments:
Post a Comment