Permasalahan
Akan tetapi, hal yang dikawatirkan saat ini ialah
bahasa Inggris tersebut sudah berada pada fungsi yang kurang semestinya.
Semakin hari, bahasa Inggris kian mendesak fungsi bahasa Indonesia, baik dalam
komunikasi nonformal maupun komunikasi formal. Fenomena yang ada saat ini, ada
kecenderungan menyisipkan istilah-istilah asing dalam pembicaraan yang menggunakan
bahasa Indonesia. Penyisipan istilah-istilah asing ini sering dilakukan oleh
tokoh masyarakat dan artis yang keduanya tidak jarang dijadikan anutan oleh
masyarakat luas. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan tokoh masyarakat dan
artis saja, namun juga dari lingkungan masyarakat.
Tidak hanya menyisipi istilah asing, tetapi masyarakat juga
banyak yang mencampuradukkan antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam
satu pembicaraan. Pencampuradukkan ini dapat dilihat di acara-acara televisi
maupun radio. Alasannya, mungkin karena bahasa Inggris bisa terdengar lebih
bergengsi.
Berkembangnya bahasa pergaulan yang saat ini
bermunculan juga mempengaruhi bentuk baku dari bahasa Indonesia itu sendiri.
Ejaan Yang Disempurnakan pun mulai terlupakan. Masyarakat lebih nyaman
menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari ketimbang menggunakan EYD. Kemunculan
bahasa ‘gaul’ ini lantas memberikan efek domino terhadap munculnya
bahasa-bahasa baru yang tentunya menyimpang dan menyalahi bentuk EYD itu
sendiri.
Implementasi
Di dalam masyarakat, terdapat dua ragam bahasa yang berbeda situasi pemakaiannya.
Satu ragam bahasa dipakai di dalam situasi resmi, sedangkan ragam bahasa yang
lain dipakai di dalam situasi sehari-hari yang tidak resmi. Ragam bahasa yang
dipakai di dalam situasi yang resmi oleh masyarakat bahasa yang bersangkutan
dianggap sebagai ragam bahasa yang tinggi dan bergengsi. Ragam ini harus dipelajari
di sekolah, sedangkan tidak setiap orang mempunyai kesempatan untuk
mempelajarinya. Ragam bahasa yang dipakai di dalam situasi yang tidak resmi
tidak perlu dipelajari karena sudah biasa dipakai sehari-hari di rumah. Oleh
karena itu, masyarakat pemakainya tidak perlu mempelajari ragam bahasa ini di sekolah.
Dan di era kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi, media pembelajaran yang sudah ada seharusnya bisa dimanfaatkan. Salah satunya
dengan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis ICT atau Information, Communication and Technology. ICT dapat memimpin dalam
perbaikan metode belajar para pelajar serta menghasilkan metode pengajaran yang
lebih baik, salah satunya dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kesimpulan
Di era globalisasi, nampaknya eksistensi bahasa Indonesia mulai
terdesak oleh bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Memang tidak bisa
dipungkiri penguasaan bahasa Inggris merupakan hal penting dalam era informasi
dan komunikasi ini. Akan tetapi, jangan sampai bahasa Inggris semakin mendesak eksistensi
bahasa Indonesia. Dan perlu dilakukan usaha-usaha dalam fenomena pergeseran
bahasa Indonesia ini, misalnya dengan pembelajaran di sekolah, maupun memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi itu sendiri, seperti misalnya media pembelajaran ICT, yang dapat memimpin dalam perbaikan metode belajar,
salah satunya dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

