Butterfly & Domino Effect

0 comments




“Kepakan sayap kupu-kupu di sebuah tempat dapat mengakibatkan badai ditempat lain yang berjauhan.”

Pernyataan diatas dikenal sebagai Butterfly Effect dalam teori chaos. Sekilas mungkin terdengar tidak masuk di akal. Bagaimana bisa kepak sayap dari makhluk kecil seperti kupu-kupu dapat mengakibatkan badai? Tetapi pernyataan tersebut sering digunakan untuk menerangkan teori Chaos kepada orang awam. Dimana letak ke-logis-annya?

Sebuah usaha untuk me-logis-kan Butterfly Effect adalah dengan menerangkannya dengan apa yang disebut sebagai non-lokalitas penyebab. Konsep ini menyatakan bahwa setiap kejadian mempunyai penyebab yang tidak terhitung jumlahnya (infinite cause). Sebagai contoh, jika seseorang menemukan uang dijalan, maka hal tersebut disebabkan oleh antara lain: ada orang yang menjatuhkannya, dan karena ia (yang menemukan) mengambil jalan dimana orang tadi menjatuhkan uang tersebut. Lalu mengapa ada orang yang menjatuhkan uang? Penyebabnya akan menjadi tidak terhitung jika dilihat dari sudut pandang ini.

Dengan digunakannya konsep non-lokalitas penyebab, maka Butterfly Effect menjadi sedikit logis. Setidaknya, digunakannya kosep non-lokalitas tersebut mengimplikasikan bahwa ada penyebab-penyebab lain yang ikut berperan serta dalam menjadikan kepak sayap kupu-kupu menjadi badai. Tapi bagaimana kalau penulis menyatakan bahwa non-lokalitas penyebab tidak relevan dalam membahas Butterfly Effect, atau dengan kata lain, hanya karena kepak sayap kupu-kupu saja, tanpa adanya penyebab yang lain secara implisit ataupun eksplisit, yang menyebabkan badai dalam konteks Butterfly Effect? Logis kah? Penulis ini menjawab: logis!

Butterfly effect, yang dikemukakan oleh Edward Lorenz, sebenarnya adalah sebuah analogi untuk menerangkan suatu konsep dari teori Chaos, yang disebut dengan sensitifitas terhadap kondisi awal (sensitivity to initial condition). Konsep ini ditemukan oleh Lorenz, yang merupakan seorang meteorolog, ketika ia mencoba memodelkan cuaca. Secara teoritis, konsep ini dapat diterangkan sebagai berikut:

“… ketidakpastian sekecil apapun yang mungkin terdapat pada kondisi awal akan bertambah secara eksponensial seiring dengan waktu, dan pada akhirnya akan menjadi sangat besar sehingga pengetahuan akan kondisi dari suatu sistem menjadi tidak berguna.”
(Baranger, Michael: Chaos, Complexity, and Entropy)


Domino Effect



Setiap rencana atau rancangan, dalam bentuk apapun itu, pasti memiliki efek atau akibat yang menyertai keputusan dari rencana atau rancangan itu. Sehingga tak ada rencana atau rancangan yang tidak memiliki hasil. Semua memiliki hasil, baik negatif ataupun positif. Hanya, menunggu waktu dan tempat sajalah, dimana hasil tersebut akan terjadi dan tertulis dalam lintasan sejarah.

Efek Domino, menurut wikipedia, adalah sebuah metafora dari sebuah kejadian beruntun dan berkaitan akibat dua peristiwa atau lebih. Layaknya sebuah rangkaian domino yang diletakkan berjajar satu dengan yang lain, ketika satu dari rangkaian tersebut diganggu (dijatuhkan.red), mengakibatkan domino lainnya ikut terganggu (terjatuh.red). Seperti itulah efek domino.

Jadi, kalau mengikuti definisi Wikipedia di atas, maka efek domino identik dengan “Butterfly Effect” yang terkenal di dunia matematika dan geofisika untuk menjelaskan Theory Chaos dimana dimetaforkan sebuah kepakan sayap kupu-kupu yang mengepak lembut di suatu tempat di Benua Australia bisa menyebabkan munculnya badai dahsyat di Myanmar. Pada kenyataannya, baik Efek Domino, maupun Theory Domino menurut pakar politik militer, atau pun Butterfly Effect berkaitan dengan suatu perubahan kecil yang menjadi besar karena ada reaksi berantai yang berjalan menggelinding bagai bola salju, sampai akhirnya terjadi perubahan besar.




Lightsaber

0 comments

Lightsaber (atau lightsabre) adalah senjata fiksi dalam dunia Star Wars, terutama digunakan oleh Jedidan Sith. Bentuknya seperti tabung kecil sepanjang kurang lebih 30 sentimeter dengan sebuah tombol. Bila tombol ini ditekan maka senjata ini akan mengeluarkan energi berbentuk cahaya sepanjang 1 meter.
Dalam trilogi asli, warna-warna lightsaber adalah biru, hijau dan merah. Dalam trilogi prequel ditemukan juga warna-warna seperti kuning, ungu, oranye, turquoise, merah muda, bronze, viridian, perak dan emas. Tidak diketahui berapa jenis warna yang ada seluruhnya.
Lightsaber juga bisa digunakan untuk memantulkan beam, laser dan serangan-serangan partikel. Lightsaber pertama kali digunakan di Star Wars Episode IV: A New Hope oleh Obi-Wan Kenobi. Pembuatan lightsabers dibuat dengan mengkombinasikan kristal penyusun dan kekuatan master Jedi. Selain lightsabers, substansi yang bisa memantulkan beam adalah cortosis. Pembawa lightsaber haruslah orang yang sangat percaya diri dan tangguh. Tidak hanya Jedi yang bisa membawanya, beberapa orang seperti Darth Sidious dan lainnya maupun dari kalangan sith bisa membawa senjata ini.


Lightsaber bisa digunakan untuk memotong benda solid milik musuh. Jedi yang terakhir, Luke Skywalker membuat lightsaber di tengah-tengah latihan jedinya.

Dalam Galaxy StarWars

Lightsaber mengeluarkan cahaya sepanjang kurang lebih satu meter dengan berbagai warna. Gagangnya berisi kristal yang diberi force oleh master jedi. Lightsaber hanya mengeluarkan energi ketika memotong obyek ( sama seperti beam saber dalam dunia gundam ). Tadinya, lightsaber digunakan sebagai senjata berat artilery, yang ditaruh di punggung. Kemudian di kecilkan dan dijadikan senjata jinjing oleh para jedi.
Sebuah Lightsaber bukan tidak mungkin akan kehabisan energi. Seorang master jedi bisa membuat senjata yang menyerupai lightsaber dengan mengisi sebuah kayu dengan Force sehingga membuatnya seampuh Lightsaber, yang bisa menahan gempuran lightsaber, yang biasanya dengan mudah terpotong olehnya.
Ketika menjelaskan kenapa para jedi memilih lightsaber daripada blaster jarak jauh oleh Obi-Wan Kenobi kepada Luke Skywalker, dia mengatakan " Lightsaber, tidak seperti blaster yang acak dan kacau, tetapi senjata yang lebih elegan untuk zaman yang lebih beradab". Mace Windu dalam pendapat pribadinya mengatakan kalau senjata berupa pedang dipilih karena dengan begitu seorang jedi bisa melihat mata orang yang nyawanya diambil dengan pedang tersebut.
Walaupun Lightsaber adalah senjata Jedi/Sith, senjata tersebut bukan berarti hanya bisa digunakan oleh pribadi yang mempunyai kekuatan Force. Dalam film Star Wars Episode V: Empire Strikes BackTemplat:Han Solo menggunakan Lightsaber Luke untuk menyelamatkan Luke yang sedang sekarat di planet Templat:Hoth.

Warna[sunting | sunting sumber]

Lightsaber, memiliki warna yang beragam seperti merah, hijau, biru dan sebagainya. Biasanya warna lightsaber tersebut tergantung pada kristal yang digunakan dan force yang mengisi gagang lightsaber tersebut. Dalam hal ini, beberapa kristal bisa menambah atributdari lightsaber tersebut. Seperti dalam Star Wars : Knight Of The Old Republic, dalam pembuatan lightsaber diperlukan 3 kristal, 1 untuk warna dan 2 lainnya untuk atribut, seperti penambahan damage atau kekuatan.
Lightsaber berwarna perunggu dan merah biasa diasosiasikan dengan sith, biru, biru muda, ungu, dan hijau dengan jedi, oranye, kuning dan jingga untuk kedua belah pihak. Tetapi tidak semua warna mengasosiasikan penggunanya. Dalam game komputer Jedi Knight, Sith bernama Sariss menggunakan lightsaber berwarna biru, dan sekutunya, Yun memakai lightsaber berwarna kuning. Ada yang mengatakan bahwa lightsaber berwarna ungu adalah lightsaber dengan penggunaan tersulit dengan tingkat kesukaran tinggi karena bisa menyeret jedi kepada sisi gelap.

Tipe

Dual-phase

Lightsaber tipe ini bisa mengubah panjang dan jarak sinar lightsaber dengan menekan tombol tertentu. Darth Vader bisa melakukan hal ini dengan sesuka hati hanya dengan menekan tombol di gagangnya. Luke Skywalker juga bisa mengubah bentuk lightsabernya menjadi sebesar pensil untuk memotong kunci pintu.
Lightsaber macam ini bisa dibuat dengan menggunakan dua atau lebih kristal aktif sebagai sumber energi. Dengan mengganti loop energi dan perubahan tingkat sel untuk mengubah ujung pedang dalam hal panjang dan bentuk.

Pendek

Lightsaber tipe ini adalah lightsaber ( biasa disebut lightsaber pendek atau lightdagger ) yang digunakan oleh tangan yang lebih lemah sebagai senjata sekunder. Dalam novel Yoda:Dark Rendezvouz dikatakan bahwa jedi yang menggunakan dua pedang bisa bergantung terlalu dalam terhadap pedangnya. Sepertinya tehnik ini terinspirasi dari jepang dan anggar eropa.
 
Copyright © Nabila Ramadhani Blogger Theme by BloggerThemes & newwpthemes Sponsored by Internet Entrepreneur